March 4th, 2008 — Uncategorized
Bandung, 03 Maret 2008.
Gerimis sore itu datang begitu saja. Menebarkan hawa dingin yang menusuk pori-pori. Mendung hitam menggantung di langit Bandung. Memamerkan sketsa kemuraman yang membias di setiap jengkal jalanan yang padat oleh kendaraan.
Aku terhisap ragu, sesaat. Tertegunku di pelataran parkir. Terbayang sebentuk wajah imut yang seminggu ini menancapkan getar-getar aneh di pikiranku. Entah apa makna getar itu. Tapi yang kutahu, ada “perasaan syahdu yang menyisir ketermangaunku saat jarak memasung tatap”.
Dua puluh lima menit berlalu. Dan aku masih terpaku dalam diam. Menunggu! Gadis pemilik wajah ayu dengan bola mata berbinar dan rambut hitam sebahu itu belum juga menampakkan kemilau auranya. Semetara gerimis yang perlahan menjelma hujan, memaksa kakiku beranjak dan berteduh di teras sebuah kafe.
“Akankah perjumpaan itu terjadi detik ini?”
Aku menghela napas panjang. Gelisah mulai menebarkan jerat-jerat kepongahannya. Dan satu demi satu mulai menepikan “kesetianku” menunggu.
Hingga detik itu pun tiba tanpa rencana.
Dia melenggang santai di bawah guyuran hujan dengan payung di tangannya. Itukah sosok gadis yang sedang aku tunggu?
Dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Sadarku terusik dari ruang kekosongan. Tahu-tahu, dua bola matanya kini begitu dekat ada di depanku.
“Kamu…” Hanya satu kata itu yang telontar dari mulutku.
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum, memperlihatkankan barisan giginya yang putih terjaga.
Aku terkesima.
“Finally, kita ketemu juga…”
Lalu semua berubah menjadi cerita suka cita. Di bawah guyuran hujan yang mengeja senja dengan irama desah rintiknya, aku dan gadis itu berjalan melintas diantara puluhan mobil yang berjajar. Sepayung berdua, aku dan dia mencatat kenangan terindah yang tercipta sore itu.
Dan…
“Tahu-tahu, kita berdiri berjajar menjelma sepasang pohon bambu…”
March 1st, 2008 — Uncategorized
Hidup itu semestinya menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan. Seperti halnya cinta. Tiba-tiba datang dan pergi tanpa permisi lalu datang lagi dan….pergi lagi.
Saat datang, cinta selalu membawa pesan-pesan kebahagiaan. Saat pergi, ia menjadi serpihan kenangan basi, bahkan seringkali menyakitkan….
Saat meradang, cinta memuja ragu dan tanya. Silih berganti merobek kewarasan. Merenggangkan ikatan dari lilitan ketidakpastian….
Dan…apa yang tersisa dari sebuah ikatan, ketika ragu terantuk ragu dalam alurnya? Bukan karena cinta yang terkikis tapi karena aura sang kekasih telah memeluk pongah di ujuang keakuannya.
Tak ada yang tersisa selain rasa yang menjerit dalam bejana asa yang yang merapal lafal kepedihan. Mata tertegun dalam ruang kosong. Bibir kelu tanpa sapa. Dan…sekujur tubuh lunglai dalam kepasrahan semu…
Ehmmm…cinta memang penuh kejutan.
January 28th, 2008 — Uncategorized
Kamasutra. Huuu…kok bayangan
pertama yang muncul di otak gue adalah 1001 macam bercinta yang sangat populer
dari India itu ya. Bisa jadi sih. Tapi, tunggu dulu, yang mau gue omongin di sini adalah
kafe Kamasutra. Kalau mau dijabarkan secara makna, dalem banget. Intinya sih :
berisi tentang kebaikan, kebaktian, kreasi yang datang dari hati yang paling
dalam.
Ya, kira-kira begitulah
prolognya. Tapi, gue mau ngobrol jauh-jauh soal kedalaman maknanya. Yang mau
gue omongin lebih pada pengalaman tiga malam ber-disko ria di Kamasutra yang
lokasinya ada di Hotel Crown Plaza
itu. Dimulai dari perayaan ultahnya Ari Lasso sampai hajatan ultanya Risca. Ari
Lasso, ya…semua pasti sudah kenal dengan penyanyi yang satu itu. Risca?
Ehmmm…mungkin belum banyak yang kenal dia. Yang jelas, gadis cantik dan mungil
itu saat ini tengah meniti karirnya di
dunia sinetron dan film. Wajahnya, sempat nongol di film Kawin Kontrak meski
bukan sebagai pemeran utama.
Nah, itung-itung merayakan ultah
mereka, yang terjadi adalah party ampe pagi. Dan itu berlangsung selama tiga
malam berturut-turut. Yang membuat gue nggak bosen adalah :
(1) Tamu-tamu yang datang rata-rata kenal semua.
(2) So, suasananya enak buanget
(3) Live band-nya keren abis. Dengan tiga penyanyi : 2
negro dan 1 bule, band-nya bikin orang betah duduk.
(4) Lagu-lagu disko yang dibawain DJ Iwan, so far,
lagu-lagu yang sudah populer dan lagi tren.
(5) Ini yang paling penting. Om Jack! Bukan sembarang Om-om. Om Jack adalah sebutan lain untuk Jackdaniels.
Hajar! Selama tiga malam, number one minuman yang terhidang adalah Om Jack.
Ampun DJ deh pokoknya. Dan tiga
malam party itu bisa terjadi karena Joy & Yokie, si empunya kafe. Dan satu
hal yang nggak bisa gue lupain adalah di malam kedua, ada perform dari Jamal
(Marokko) bersama istrinya yang bersolo piano dan menyanyikan lagu Hello-nya Lionel Richie. So Romantic….!
Dan satu lagi, gue akhirnya bisa
kenalan dan ngobrol panjang lebar ama Ashanty. Si cantik yang juga lagi
merintis karir di dunia sinetron dan layar lebar. Cute & Smart! Udah gitu, dia doyan banget ama anything about
love. Salah satunya, dia seneng dengan puisi cinta. Finallnya, sepotong puisi cinta yang dulu
pernah gue tulis untuk seorang gadis “pujaan”, luruh lagi di balik keremangan Kamasutra
yang memantulkan cahaya lampu yang berkilat.
“Seperti menikam diri sendiri tanpa sakit menjerit. Kutelan pedih
karena mencintai dirimu yang hanya meninggalkanserpihan lara. Kau pagutkan
hatimu pada orang lain ketikakata setia kujaga di atas pengharapan satu
satunya. Tiada ingin kuakhirkan jejak cintaku selain kepadamu. Tapi kini
segalanya telah cukup. Selama ini kau hanya memberiku mimpi belaka, lain tidak.
Aku pergi karena terlalu mencintaimu, itulah akhirnya. Biarlah rasa ini
kupendam mati. Dan jangankau pernah bertanya meski ada ruang untuk kembali. Aku
yang memulakan, aku juga yang harus meniadakan. Dari tiada menjadi ada, dari
ada menjadi tiada. Meski jerit sakitku tak berbuah tangis tapi jiwaku merapal
duka yang meraja di atas bahagiamu.”
Ternyata, Om Jack bisa menyatu
dengan cinta, meskipun cuma sepotong kenangan pahit yang pernah mengisi
hari-hari gue. Tapi malam itu, gue tertawa bahagia kok!
Duh, kok jadi serius ya? By the
way, kapan pun ada waktu luang, tak ada salahnya mampir ke Kamasutra. Oke?!!!
Cu there!
January 24th, 2008 — Uncategorized
LOVE
a novel by Moammar Emka, based on script by Titien Wattimena
Hai,
Jakarta
yang menyulap pagi menjadi berarti.
Kenalkan, ini aku : Dinda. Bolehkah aku menyapamu pagi ini? Aku lihat langit
bersinar cerah dan ribuan manusia sibuk memulai hari. Begitu banyak tanda-tanda
yang bisa aku lihat dari isyarat pagi. Tanda-tanda itu melintas dan terekam
begitu saja, lalu menjelma menjadi penggalan kenangan yang berceceran.
“Apa yang
kita ingat dari kenangan kenangan yang terekam oleh kita? Nama tempat, nama
permainan, nama teman, atau kejadian adalah hal-hal yang mungkin lambat laun
bisa terlupa…tapi tidak dengan rasa!!!”
.
Lihat saja, dua anak
lelaki yang secara bergantian menendang satu kaleng bekas minuman di trotoar.
Atau sekelompok anak SMU yang berjalan dengan wajah ceria, salah satu dari mereka adalah sepasang cowok cewek yang
berjalan bergandengan.
Di sudut lain, coba
tengok pemandangan sebuah motor melintas di jalan raya. Pengendaranya adalah
seorang bapak, sementara di belakangnya
duduk seorang anak berseragam SD dengan usia 7 tahun, dan istrinya yang
berjilbab.
Kenangan
apa yang terekam saat melihat wajah-wajah mereka?
”Ehm…Rasa
senang…rasa sedih, yang akan terus kita
bawa tanpa mudah tercecer di sepanjang
perjalanan kita…!”
Masih belum puas? Coba
sekali lagi lihat wajah-wakah mereka. Sepasang
laki-laki perempuan berusia 25 tahun-an tengah duduk di dalam mobil. Si wanita
tampak sibuk memegang kemudi, sementara si pria duduk di sampingnya. Pria itu
mulutnya komat-kamit seperti bercerita tentang sesuatu sambil mengusap kepala
si wanita. Wanita itu tertawa.
Atau sekali waktu,
picingkan mata kita sejenak melihat seorang pengemis tua tanpa kaki yang duduk
di trotoar sambil menengadahkan tangannya.
Dan juga pemandangan sepasang pria wanita tuna rungu yang berdiri menunggu bis
sambil saling berbicara dengan bahasa isyarat.
Begitu banyak kejadian
yang berserakan . Satu per satu terekam dalam kepala kita. Satu per satu,
menjelma kenangan yang membentuk cerita sendiri-sendiri.
Ada
yang menyisakan kesan terdalam dan tak
terlupakan, tapi ada juga yang hanya menjadi sekelabat bayangan semata.
“Dan
semakin kita dewasa, kita akan makin menyadari bahwa di antara
kenangan-kenangan tersebut, ada satu rasa yang paling besar yaitu cinta!
Cinta! Ehm, begitu banyak cerita yang mengungkung di
setiap incinya. Tak peduli manis pun juga pahit. Semua teramu dalam satu
bejana. Sepertinya, cinta memang ditahbiskan untuk ada dan selalu menjadi
bagian dari kenangan setiap manusia. Abadi dan lekang sepanjang masa. Aku adalah salah satu yang merasakannya.
Diantara
lima
kisah cinta ingin kubagi-bagi ini, aku adalah salah satu pelakunya.
Biarkan dan ijinkan aku
membagi cerita cinta ini. Karena begitu banyak serpihan makna yang tertoreh di
dalamnya. Entah itu (1) cinta sebagai satu hal yang sederhana, (2) cinta itu
bukan hanya sekedar kata-kata, (3) cinta itu adalah hidup, (4) cinta itu adalah
hadiah semata, ataukah (5) cinta itu adalah harapan yang sesungguhnya.
Semuanya, tidak saja begitu berarti untuk aku, tapi sangat mungkin untuk perjalanan hati setiap anak manusia
yang pernah mengenal dan mencecap apa itu cinta.
NOTE : BACA NOVEL DAN TONTON FILMNYA. BEREDAR FEBRUARI 2008.
January 23rd, 2008 — Uncategorized
Sapaku mulai tertatih meencai jejakmu.
Tak kudengar lembut bisikmu mengusik sepiku.
Berbisiklah meski hanya berdesir bersama angin.
Tak apa.
Aku hanya ingin mendengar suaramu detik ini, itu saja!
Karena ternyata,
Sepiku tak usai.
Menyergap sadarku dari puing keterasingan.
Rinduku tak usai.
Merapal namamu dari jerit ketakutan.
Cintaku pun tak juga usai.
Memasung hatiku hanya untuk satu namamu.
Apakah ini nyata atau semu?
Apakah ini janji atau semata ilusi?
Hanya kalam batinmu yang mampu mengurai.
Aku hanya mampu mengibarkan bendera tanda.
Selebihnya, biarlah dirimu yang mengulur benang talinya, itu saja!
November 5th, 2007 — Uncategorized
Kucari jejakmu yang terhisap kangen tadi malam. Membawa khayalku dalam rindu yang menggamit resah, lalu galau.Gundah menyelinap di balik senyum sederhanamu yang datang bersama gerimis pagi.
Lalu…
Ada damba untuk memelukmu, seketika. Menggiring serta cintamu saat mata kita beradu dalam ketulusan yang tak bersyarat.
Lalu…
Jejakmu merunutkanku pada arakan cinta yang berkelok. Menyisakan sepotong kemesraan yang menyisir indah di butiran pasir yang basah.
Lalu…
Jejakmu terhenti. Jejakku menepi. Sepoton cinta yang hadir, mencium basi dalam alurnya. Satu demi satu, membunuh setiap gelisah dan rindu yang hadir. Menenggelamkannya dalam puing luka yang mengiris bisu.
Lalu…
November 1st, 2007 — Uncategorized
Tadinya aku pikir itu nyata. Saat tatap mata gadis sahaja luruh tanpa syarat dan mengundang cintaku masuk seketika.
Tadinya aku pikir itu bahagia. Saat cinta melesat cepat mengecup pucuk-pucuk surga. Hingga sepotong kemesraan tercipta dalam barisan hari yang menggugat tawa. Tadinya….
Kini, aku seperti terusir dari lamun.
Saat kusadar, cinta dan kemesraan yang menyisir di setiap catatan senja, ternyata hanya menyisakan hampa belaka. Cinta dan kemesraan yang nyaris tanpa kata-kata, ternyata menggelitik jenuh dalam alurnya. Dan tiba-tiba cinta itu pudar…
Tadinya aku pikir itu bias luka lama,
ternyata cinta itu memang telah pergi tanpa permisi. Begitu saja…
August 20th, 2007 — Uncategorized
Malam telah menjelma pagi. Begitu lambat detak menjepit ruang mayaku. Tak sanggupku mengatupkan mata walau sekejap. Bayangmu terpendar diantara gerimis yang sejak sore melukis bumi dengan sketsa air yang turun satu per satu. Lelah ragaku yang menyerang, tak jua menenggelamkanku dalam pelukan mimpi.
Ah, selalu saja ini terjadi. Saat gelisah mengeruk tiap inci pencapaian ketidakberdayaanku, warasku menjelma nyata di batas bisunya kata-kata. Untuk bercerita padamu tentang taman stroberry yang bertabur wangi kasturi yang disinggahi sepasang hati yang seia dalam tawa dan tangis.
Dan…
tak terelak, wujudmu nyata menggelayut manja di pelupuk mataku. Menabur benih rindu yang mencipta gelisah pada arakan mendung. Ah, ternyata aku kangen.
July 20th, 2007 — Uncategorized
Aku terlalu sibuk mengeja hatimu. Menghayati makna yang tersembunyi. Hanya ada isyarat sunyi dan semunya tanda. Getarku menepi, ketakutan. Getarku meletup, kehausan. Aku hanya ingin menyebut namamu dan mengucapkan Selamat Ulang Tahun, bidadariku yang masih setia berkerudung dalam kidung luka.
Karena mencintaimu adalah satu hal yang kutahu, maka tak salah jika segala rindu, gelisah dan bahagia yang mengungkung di hari penjelmaanmu, hanya kualamatkan kepadamu. Ini bukan janji tapi kata hati. Semoga kau mengerti.
Dan…
Semoga bahagia memayungi setiap jejak kehidupanmu, tanpa ragu. Semoga…
April 24th, 2007 — Uncategorized
Apa yang akan kau ucapkan saat hatimu tak bisa lagi berlari dari nyata. Selalu saja berpihak pada mimpi yang kau yakini suatu saat akan menghadirkan getar bahagia untuk harimu…
Dan ternyata,
Semua masih sama. Satu hati yang kau iba-iba tetap saja tak bergeming. Setia menggantungkan segala harapan yang kau ikat pada altar jiwamu di kaki langit yang bersemu mendung.
Dan ternyata,
Jejak awal yang kau mulai, dan telah melewati gulungan hari, tetap kembali pada jalur semula. Seribu jejak tetap bermakna satu jejak. Hati yang kau pilih untuk kau singgahi sebagai pelabuhan mimpi, hanya mengibarkan bendera tanda-tanda. Sekejap sapa yang luruh,
secuil senyum yang tumpah,
dan serentet cerita yang merajut hari,
tak memberikan jawaban apa-apa.
Masih sama.
Selain getar gelisah dan lilitan damba yang menggunung,
selebihnya adalah nol.