Erotisme Malam-Malam Di Ibu Kota

SEPUTAR INDONESIA, Selasa/31 Maret 2009

IBU KOTA Jakarta seakan tak pernah tidur dan selalu berlari tanpa mengenal waktu. Geliat kehidupan di Jakarta tak pernah berhenti walaupun sejenak.

Sepanjang siang, aktivitas begitu cepat bergulir, dan ketika malam merambat, denyutnya masih tetap terasa meski lamat-lamat. Walaupun merambat,kehidupan malam di Ibu Kota tetap menggairahkan tubuh-tubuh yang letih dengan menghamparkan sejuta sensasi.

Di sejumlah sudut kota,suasana malam tidak lagi pekat. Sebaliknya gemerlap, berdentam, bahkan liar.Betapa tidak,pelbagai jenis hiburan yang tersaji seakan bak selimut kamuflase untuk menyajikan sesuatu yang erotis. Seksualitas pun berubah makna, bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu dibicarakan secara terbuka.

Sebaliknya, seksualitas telah menjadi komoditas yang paling panas dengan konsumen yang tak seakan tak pernah loyo diterpa krisis. Meski seksualitas tetap menjadi menu utamanya, penyajiannya semakin kreatif dengan menawarkan berbagai variasi. Dari namanya saja,efek sensasi yang ditawarkan sudah tak terbayangkan sebelumnya. Ada Angel Spa, Cuci Blow-Job, sampai yang namanya asing di telinga macam Monkey Room.

Dalam buku Tumpang Tindih, Moammar Emka, penulis yang sudah tak asing lagi dalam menguak kehidupan malam di Jakarta melalui Jakarta Undecover 1, 2,dan 3, kembali mengupas seluk-beluk gaya hidup “error” di Ibu Kota yang seakan telah dikepung dengan sextainment. Dalam buku setebal 441 halaman yang diterbitkan Gagas Media,Moammar Emka seakan semakin hafal setiap lekuk tubuh Ibu Kota lengkap dengan sensasi sextainment.

Bahkan, dalam buku keempatnya ini, mantan wartawan yang berkarier menjadi penulis ini tak sekadar mengungkap kehadiran perempuan mancanegara, seperti dari Thailand, China, Uzbekistan, Spanyol, dan Mongolia dalam industri esek-esek. Dia pun mulai melebarkan sayap untuk menguliti setiap jengkal bisnis kelenjar di beberapa kota,seperti di Surabaya dan Bandung.

Malahan, untuk melengkapi berbagai variasi dan keterkaitan perkembangan industri erotisme di Tanah Air,dia merambah beberapa kota besar di Asia Tenggara,seperti Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura. Meskipun buku ini tak jatuh menjadi bacaan yang penuh berahi, berbagai sensasi yang dihamparkan tetap menjadikan sebagai bacaan yang adult content.

Untunglah Moammar Emka tak ingin membiarkan pembacanya semakin liar dengan fantasinya karena dia pun menyuguhkan fakta kelam dari maraknya industri seks dan kehidupan free sex. Seperti meningkatnya penyakit kelamin, praktik aborsi, dan tingginya angka HIV/AIDS, terutama di kalangan remaja dan usia produktif. Jadi perlu pikiran sehat untuk menikmati buku ini, bukan hanya merasakan sensasinya saja, juga mempertimbangkan keburukan yang akan diperoleh.

Bahkan, memantik kita untuk mencari solusi tepat agar pola hidup yang salah tidak semakin menjamur. Sekaligus menemukan fakta yang sebenarnya, apakah memang di sekitar kita sextainment sudah begitu subur, ataukah hanya imajinasi sang penulis.(wasis wibowo)



0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..

Leave a Comment