April 2nd, 2009 — Books
SEPUTAR INDONESIA, Selasa/31 Maret 2009
IBU KOTA Jakarta seakan tak pernah tidur dan selalu berlari tanpa mengenal waktu. Geliat kehidupan di Jakarta tak pernah berhenti walaupun sejenak.
Sepanjang siang, aktivitas begitu cepat bergulir, dan ketika malam merambat, denyutnya masih tetap terasa meski lamat-lamat. Walaupun merambat,kehidupan malam di Ibu Kota tetap menggairahkan tubuh-tubuh yang letih dengan menghamparkan sejuta sensasi.
Di sejumlah sudut kota,suasana malam tidak lagi pekat. Sebaliknya gemerlap, berdentam, bahkan liar.Betapa tidak,pelbagai jenis hiburan yang tersaji seakan bak selimut kamuflase untuk menyajikan sesuatu yang erotis. Seksualitas pun berubah makna, bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu dibicarakan secara terbuka.
Sebaliknya, seksualitas telah menjadi komoditas yang paling panas dengan konsumen yang tak seakan tak pernah loyo diterpa krisis. Meski seksualitas tetap menjadi menu utamanya, penyajiannya semakin kreatif dengan menawarkan berbagai variasi. Dari namanya saja,efek sensasi yang ditawarkan sudah tak terbayangkan sebelumnya. Ada Angel Spa, Cuci Blow-Job, sampai yang namanya asing di telinga macam Monkey Room.
Dalam buku Tumpang Tindih, Moammar Emka, penulis yang sudah tak asing lagi dalam menguak kehidupan malam di Jakarta melalui Jakarta Undecover 1, 2,dan 3, kembali mengupas seluk-beluk gaya hidup “error” di Ibu Kota yang seakan telah dikepung dengan sextainment. Dalam buku setebal 441 halaman yang diterbitkan Gagas Media,Moammar Emka seakan semakin hafal setiap lekuk tubuh Ibu Kota lengkap dengan sensasi sextainment.
Bahkan, dalam buku keempatnya ini, mantan wartawan yang berkarier menjadi penulis ini tak sekadar mengungkap kehadiran perempuan mancanegara, seperti dari Thailand, China, Uzbekistan, Spanyol, dan Mongolia dalam industri esek-esek. Dia pun mulai melebarkan sayap untuk menguliti setiap jengkal bisnis kelenjar di beberapa kota,seperti di Surabaya dan Bandung.
Malahan, untuk melengkapi berbagai variasi dan keterkaitan perkembangan industri erotisme di Tanah Air,dia merambah beberapa kota besar di Asia Tenggara,seperti Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura. Meskipun buku ini tak jatuh menjadi bacaan yang penuh berahi, berbagai sensasi yang dihamparkan tetap menjadikan sebagai bacaan yang adult content.
Untunglah Moammar Emka tak ingin membiarkan pembacanya semakin liar dengan fantasinya karena dia pun menyuguhkan fakta kelam dari maraknya industri seks dan kehidupan free sex. Seperti meningkatnya penyakit kelamin, praktik aborsi, dan tingginya angka HIV/AIDS, terutama di kalangan remaja dan usia produktif. Jadi perlu pikiran sehat untuk menikmati buku ini, bukan hanya merasakan sensasinya saja, juga mempertimbangkan keburukan yang akan diperoleh.
Bahkan, memantik kita untuk mencari solusi tepat agar pola hidup yang salah tidak semakin menjamur. Sekaligus menemukan fakta yang sebenarnya, apakah memang di sekitar kita sextainment sudah begitu subur, ataukah hanya imajinasi sang penulis.(wasis wibowo)
February 24th, 2009 — Books

(Cover Final).
TUMPANG TINDIH (Malem-Malem Bikin Syur) merespons berbagai masalah yang berjalan di luar batas normal atau kewajaran. Persoalan gaya hidup “EROR” yang dikupas tidak saja melibatkan industri seks atau komunitas tertentu, tapi menukik pada isu-isu lifestyle personal gaul yang sedang “in”. Mulai dari Supermarket Seks, “Lelang Cewek” of The Month, “Tiger Show” ala Thailand, Sex Machine ala Tali 16 Gaya, Cewek-Cewek “Petik Anggur” sampai ke Bra 36 O, trade-mark alat vital, dan obat kuat.
Nite-life yang dikuak tidak saja Jakarta-sentris, tapi juga melebar ke Surabaya, Bandung, bahkan Bangkok, Singapura dan juga Kuala Lumpur.
Apalagi “kegilaan” dunia malam dan life-style “eror” di sana???
Temukan dalam :
1. “KoloR-in-the-City”
2. “Kanan Eror, Kiri Horny”
3. “Malem-Malem Bikin Syur”
4. “Sport-Sex-tainment”
5. “Malu Bertanya Nyasar Di Ranjang”
TUMPANG TINDIH ibarat gado-gado betawi campur pizza, sushi, dan hamburger. Anda dapat menyantapnya dari mana saja. Mau menelan dan mengunyahnya secara bersama-sama juga tidak apa-apa. Siapa tahu, citra rasa “tumpang-tindih”nya malah menimbulkan sensasi yang berbeda. Yummmmy !!!
Info lebih lanjut, klik saja :
www.emkamoammar.com
www.moammaremka.blogspot.com
www.emkamoammar.blogspot.com
February 14th, 2009 — Books
Prolog nih ceritanya…

Mengumpulkan dan meng-update file-file yang tercecer. Itulah yang melatarbelakangi terbitnya buku ini. Coretan atau tulisan —apapun itu bentuknya, buat saya adalah sebuah ide. Makanya, ketika saya membuka-buka lagi file-lama yang tersimpan rapi di hard-disk komputer dan laptop, tiba-tiba telontar keinginan untuk menjadikannya sebagai sebuah buku.
Yang pasti, keinginan itu datang begitu saja. Awalnya, iseng-iseng saya membaca empat tulisan saya yang berjudul Bra 36#O, Mak Ero Vs Mak Irit, Nude Server Party dan L’sbian Package. Ketiga tulisan saya ini pernah dimuat di kolom Seduction With Emka di majalah Male Emporium (ME) tahun 2006. Lalu, saya mulai menggabungkannya dengan beberapa tulisan yang tercecer di beberapa folder lain.
Keranjingan menulis untuk posting di web dan blog, membawa angin segar buat gue. Paling tidak, gue bisa memuntahkan semua yang ada di kepala gue dengan bebas, entah bentuknya sekadar uneg-uneg, curhat, gosip bahkan sampai menukik pada persoalan gaya hidup yang tengah jadi tren.
Well, ternyata ada banyak banget tulisan yang berhasil saya kumpulkan. Kalau dihitung-hitung, totalnya lebih dari 40-50. Makanya, daripada terbuang dengan percuma (kok jadi inget dengan “buang tai macan” yang jadi hobi sejumlah lelaki yang biasa jajan di prostitusi), tulisan yang tercerai berai itu coba gue kawinkan dalam satu buku. Biar nggak basi, tetap [up] to [date] dan setidaknya enak untuk dinikmati sebagai bacaan ringan yang informatif –syukur-syukur inspiratif, gue melakukan tambal sulam disana-sini.
Mengapa Tumpang Tindih?
Judul itu sebenarnya muncul tanpa sengaja. Persisnya, pas gue lagi duduk di sebuah kafe di bandara Adi Sucipto-Yogyakarta bareng Happy Salma. Waktu itu, gue dan Happy kebetulan lagi ada talkshow di sebuah pameran buku yang diprakarsai Buka Buku Production di GOR Universitas Negeri Yogyakarta.
Lagi enak-enaknya menikmati sepiring mie rebus, ide untuk membuat buku bareng itu tiba-tiba nyeplos begitu saja. Tadinya, karena buku itu merupakan “silang-sahut” antara saya dan Happy terhadap segala macam persoalan yang tengah tune-in. Makanya, saya mengusulkan judul Tumpang Tindih. Sayang, dalam perjalanannya buku itu terhenti di tengah jalan. Ya, alasannya lebih karena kendala teknis : sama-sama sibuk dengan pekerjaan.
Sebagai sebuah judul, Tumpang Tindih akan merespon berbagai masalah yang berjalan di luar batas normal atau kewajaran. Fokusnya, tentu saja tidak jauh dari bidang yang saya minati : gaya hidup dan industri seks lengkap dengan segala pernak-perniknya.
Secara tema, mungkin tidak berbeda jauh dengan tiga buku saya sebelumnya : Jakarta
Undercover 1,2 dan 3. Hanya saja, dalam buku ini persoalan yang saya tulis jauh lebih variatif. Tentu saja, tidak Jakarta-sentris tapi melebar ke beberapa kota besar lainnya (di Indonesia & beberapa negara tetangga) seperti Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Surabaya, Bandung dan lain-lain.
Yang tak kalah penting, persoalan gaya hidup “eror” yang saya kupas, warna-warninya jauh lebih banyak. Tidak saja melibatkan industri-seks atau komunitas tertentu tapi juga menukik pada isu-isu ‘lifestyle-gaul’ personal yang sedang “in”. Beberapa contohnya ya seperti Bra 36-O, trade-mark alat vital, obat kuat dan sebagainya…. (to be cont’d..)

So….untuk lebih jelasnya….
silahkan baca bukunya yang bakal rilis FEBRUARI 2009 !
NOTE : Tagline KoloR-in-the-City berubah jadi Malem-Malem Bikin Syur.
February 7th, 2009 — Books Tagged Add new tag
Prolog nih ceritanya…
Mengumpulkan dan meng-update file-file yang tercecer. Itulah yang melatarbelakangi terbitnya buku ini. Coretan atau tulisan —apapun itu bentuknya, buat saya adalah sebuah ide. Makanya, ketika saya membuka-buka lagi file-lama yang tersimpan rapi di hard-disk komputer dan laptop, tiba-tiba telontar keinginan untuk menjadikannya sebagai sebuah buku.
Yang pasti, keinginan itu datang begitu saja. Awalnya, iseng-iseng saya membaca empat tulisan saya yang berjudul Bra 36#O, Mak Ero Vs Mak Irit, Nude Server Party dan L’sbian Package. Ketiga tulisan saya ini pernah dimuat di kolom Seduction With Emka di majalah Male Emporium (ME) tahun 2006. Lalu, saya mulai menggabungkannya dengan beberapa tulisan yang tercecer di beberapa folder lain.
Keranjingan menulis untuk posting di web dan blog, membawa angin segar buat gue. Paling tidak, gue bisa memuntahkan semua yang ada di kepala gue dengan bebas, entah bentuknya sekadar uneg-uneg, curhat, gosip bahkan sampai menukik pada persoalan gaya hidup yang tengah jadi tren.
Well, ternyata ada banyak banget tulisan yang berhasil saya kumpulkan. Kalau dihitung-hitung, totalnya lebih dari 40-50. Makanya, daripada terbuang dengan percuma (kok jadi inget dengan “buang tai macan” yang jadi hobi sejumlah lelaki yang biasa jajan di prostitusi), tulisan yang tercerai berai itu coba gue kawinkan dalam satu buku. Biar nggak basi, tetap [up] to [date] dan setidaknya enak untuk dinikmati sebagai bacaan ringan yang informatif –syukur-syukur inspiratif, gue melakukan tambal sulam disana-sini.
Mengapa Tumpang Tindih?
Judul itu sebenarnya muncul tanpa sengaja. Persisnya, pas gue lagi duduk di sebuah kafe di bandara Adi Sucipto-Yogyakarta bareng Happy Salma. Waktu itu, gue dan Happy kebetulan lagi ada talkshow di sebuah pameran buku yang diprakarsai Buka Buku Production di GOR Universitas Negeri Yogyakarta.
Lagi enak-enaknya menikmati sepiring mie rebus, ide untuk membuat buku bareng itu tiba-tiba nyeplos begitu saja. Tadinya, karena buku itu merupakan “silang-sahut” antara saya dan Happy terhadap segala macam persoalan yang tengah tune-in. Makanya, saya mengusulkan judul Tumpang Tindih. Sayang, dalam perjalanannya buku itu terhenti di tengah jalan. Ya, alasannya lebih karena kendala teknis : sama-sama sibuk dengan pekerjaan.
Sebagai sebuah judul, Tumpang Tindih akan merespon berbagai masalah yang berjalan di luar batas normal atau kewajaran. Fokusnya, tentu saja tidak jauh dari bidang yang saya minati : gaya hidup dan industri seks lengkap dengan segala pernak-perniknya.
Secara tema, mungkin tidak berbeda jauh dengan tiga buku saya sebelumnya : Jakarta
Undercover 1,2 dan 3. Hanya saja, dalam buku ini persoalan yang saya tulis jauh lebih variatif. Tentu saja, tidak Jakarta-sentris tapi melebar ke beberapa kota besar lainnya (di Indonesia & beberapa negara tetangga) seperti Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur, Surabaya, Bandung dan lain-lain.
Yang tak kalah penting, persoalan gaya hidup “eror” yang saya kupas, warna-warninya jauh lebih banyak. Tidak saja melibatkan industri-seks atau komunitas tertentu tapi juga menukik pada isu-isu ‘lifestyle-gaul’ personal yang sedang “in”. Beberapa contohnya ya seperti Bra 36-O, trade-mark alat vital, obat kuat dan sebagainya…. (to be cont’d..)
So….untuk lebih jelasnya….
silahkan baca bukunya yang bakal rilis FEBRUARI 2009 !
November 18th, 2008 — Books, Movie
Tarzan, si Raja Hutan, kebingungan sama suasana kota yang baru sekali itu dia datangi. Di restoran, orang-orang makan “sodara-sodara-nya” yang ada di hutan. Di butik, si zebra dipajang jadi baju. Tarzan sedih dan nggak habis pikir. Tapi dia mesti ngejagain Ratna, si cantik yang ditolong saat diculik si Master Mata Hitam di hutan.
“Auooooooo……!!!” Tarzan siap beraksi. Kalo di hutan, dia lah rajanya. Gimana kalo di kota? Mampukah dia tetap jadi raja meski sudah kursus bahasa Inggris dan table-manner segala????
DAPATKAN BUKUNYA DI TOKO-TOKO BUKU TERDEKAT MULAI 25 NOVEMBER 2008. JANGAN LUPA TONTON FILMNYA : 4 DESEMBER 2008 !!!
November 8th, 2008 — Books, Movie
Story & Directed by : REKA WIJAYA
Produced by : 13 ENTERTAINMENT & LOLIPOP PICTURES
The Cast : SANDRA DEWI, AJUL JIUNG, VINCENT CLUB 80’s
A novel by : MOAMMAR EMKA
Premiere : 4 DESEMBER 2008
Ratna (Sandra Dewi) adalah putri tunggal Pak Barkah bin Sadeli (Reza Pahlevi), seorang pengusaha dan ilmuwan kosmetik yang selalu menggunakan tumbuh-tumbuhan sebagai bahan ramuannya. Suatu hari, Ratna menemani ayahnya ke hutan untuk mencari daun tapak monyet yang dipercaya sangat berguna untuk mencegah keriput. Pak Barkah dibantu asistennya, Tiga (Mamo).
Ketika daun tapak monyet ditemukan, Ratna diculik Arde (Vincent Club 80’s) dengan bantuan dua anak buahnya, Kutil (Rudi Sipit) dan Tumpal (Hamka). Arde adalah putra tunggal Pak Hajat (Him Damsyik) dan Bu Hajat (Connie Sutedja), pengusaha kosmetik saingan Pak Barkah. Setelah berhasil menculik Ratna, Arde menyembunyikannya di dalam gua.
Namun usaha Arde belum menuai hasil karena mobilnya kecelakaan dan terbakar di dalam hutan ketika menghindari kejaran Tiga. Karena mengira Ratna masih berada dalam mobil, Tiga menganggap Ratna ikut meninggal dalam kecelakaan itu. Tapi Pak Barkah tetap merasa, anaknya masih hidup dan berada di suatu tempat.
Keyakinan Pak Barkah terbukti. Ratna masih hidup dan di dalam gua itulah, dia bertemu dengan Tarzan (Ajul Jiung). Tarzan lah yang akhirnya menolong Ratna dan mereka pun jadi teman baik. Ratna mengantar Ratna pulang ke kota.
Arde dan dua anak buahnya, Kutil dan Tumpal, yang ternyata selamat dari kecelakaan itu, mengetahui keberadaan Ratna yang datang bersamaTarzan yang bertampak dekil, konyol dan kuper. Wajah Arde sudah berubah akibat luka bakar. Berkat usaha ayahnya, Pak Hajat, wajahnya dipermak sedemikian rupa. Arde pun mengganti namanya menjadi Mamahi, Master Mata Hitam.

Mamahi berusaha mendekati Tarzan guna mendapatkan hewan-hewan liar untuk dijadikan bahan pembuat ramuan kosmetik di perusahaan ayahnya. Dengan segala tipu daya, Mamahi menculik Ratna untuk kedua kali. Tarzan berusaha menolongnya.
Akhirnya, pertempuran antara kejahatan modern dan kesederhaan pun berlangsung di depan Ratna, yang merasa bersalah telah membawa Tarzan ke kota.
“Sorry, this should be taken so far away from any memories of people who cares if you gone away, but i will not leave you if you promise me you’ll never fade away from me. I just want it to hold you in my arm,” kata si Tarzan dengan fasih.
Lho……??!!
“SELAMAT MENONTON. JANGAN LUPA BAWA TEMAN, KELUARGA DAN TETANGGA. INGAT! MULAI DI BIOSKOP : 4 DESEMBER 2008 !”
May 28th, 2008 — Uncategorized
"No Money, No Honey!!!"
Sebuah ide, bisa datang dengan sangat tiba-tiba dan tanpa
sengaja. Jadi tidaklah salah, kalau ada ungkapan yang menyebutkan : ide itu ada
dimana-mana dan nggak ada habisnya. Seperti halnya judul Belilah Aku Jadi
Pacarmu yang muncul begitu saja ketika gue lagi di Jogyakarta dan ngobrol selama
2 jam di telepon dengan seorang cewek dari Jakarta
Tanpa menunggu lebih lama lagi, begitu kelar nelpon, gue
langsung membuat draft cerita Belilah Aku
Jadi Pacarmu. Ya, kira-kira ceritanya akan bermuara pada kisah cewek-cewek
yang hidup di Jakarta yang punya gaya hidup “hi-class” dan
punya segudang perilaku unik. Salah satunya adalah perilaku yang menganut paham
ala “escort” dalam hal pacaran (relationship). Artinya, pacaran hanyalah sebuah
symbol belaka dan ujung-ujungnya tetap berbuntut pada urusan “uang”.
Dalam alurnya, akan
ada muncul sejumlah tokoh cewek yang notabene “No money, No pacaran”, atau “No Hermes, No pacaran”. Akan muncul juga tokoh cowok yang demi gengsi
dan prestige rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar hanya untuk mendapatkan
“pacar” yang layak ditenteng dan dipamerin dimana-mana.
Ceritanya akan dibuat bergaya “cosmopolitan”. Kiblatnya kira-kira
nggak jauh dari serial televisi “Sex and the City” dengan tokoh fenomenalnya :
Sarah Jessica Parker.
Tadinya, judul Belilah Aku Jadi Pacarmu ini akan gue
buat jadi satu artikel lepas di salah majalah Ibukota. Tapi, ternyata….dari buzz on buzz yang gue lakukan dan respon
yang masuk, akhirnya gue memutuskan untuk menjadikannya sebagai buku dan film.
“Judulnya asyik banget !!!” seru Krishto Damar Alam. Dan
komen itu juga di-amini sejumlah temen gue.
Thank’s God ! Semoga buku dan filmnya bisa secepatnya
direalisasikan.
May 27th, 2008 — Uncategorized
:: Selepas malam menggelayut gelap, sepiku merambah bayangmu. Beranjak pekat dalam kubang rindu yang tiba-tiba menghanyutkanku. Untuk mendesiskan namamu dan mencipta wajahmu seketika.
:: Tapi kenapa hanya kosong yang kudekap. Jejak rinduku berkelok pongah di ujung keakuannya. Tanda cintamu masih saja berpihak pada langit semu. Memaksa rinduku menepi dalam basi.
:: Sepertinya, tak ada yang tersisa dariku selain rasa yang menjerit dalam bejana asa yang merapal sedih. Mata terantuk kosong, bibir kelu tanpa sapa dan sekujur tubuh lunglai dalam kepasrahan semu.
:: Mungkinkah semua akan menciumi kefanaan dan berakhir sia-sia? Jika iya, lebih baik aku pergi dan memuja sepi untuk kesekian kalinya.
:: Aaaahhhhh….semoga ini bukan nyata. Karena kuingin rindu ini ada, hari ini, lusa dan seterusnya. Tapi untuk siapa? ::
March 15th, 2008 — Uncategorized
Detik yang kupeluk, telah menyekat mataku pada detak jam yang menunjuk angka 04.28 dini hari. Ada sunyi yang tiba-tiba hadir…memaksaku terdiam sejenak dalam bius cakrawala pagi tanpa kata-kata.
Satu detik melaju tanpa kusadari…
Satu menit melibas anganku tanpa apa-apa…
Dan…
Saat kupasung mataku dalam tidur lena, semua tampak begitu nyata. Dalam mimpiku, kutemui kau dengan senyum menjelma. Apa adanya dan seutuhnya…
Meninggalalkan sepotong kangen yang merenggut sadarku ketika matahari membiaskan sinar kemilaunya di balik jendela….
Ah, sedang apa dia?
Semoga saja awan yang berarak membawa pesan kangenku yang kini mulai setia dalam alurnya. Semoga ia tetap menjadi gadis biasa yang membiarkan tubuhnya sedikit basah oleh hujan senja. Ketika itu, ia begitu memesona….
Semoga saja ini nyata…..
March 12th, 2008 — Uncategorized
"Lebih baik tertunda, daripada tidak sama sekali…!"
Yes! Akhirnya sesuatu yang selama hampir dua tahun ini tertunda, terwujud juga. Website gue udah rilis ke dunia maya (bukan Maia Estianty ya, ups!) sejak awal Maret 2008. Horeeee….! Nama yang gue pake mau nggak mau alias terpaksa adalah www.emkamoammar.com. Tadinya, dua tahun lalu, web gue dengan domain www.moammaremka.com udah sempet on-line dengan cerita-cerita tentang malam-malam di Jakarta dan lika-liku dunia perbukuan di tanah air. Tapi karena salah urus, web itu akhirnya hilang begitu saja dan domain-nya tahu-tahu udah ada yang "ngebajakk". Hebat nggak tuh….
Tapi, ya sudahlah…lupakanlah. Yang penting, sekarang gue udah punya web baru dan secara pengurusan jauh lebih oke bahkan sangat oke. So, kalo lagi senggang dan ingin me-refresh otak dengan informasi seputar nitelife, buku, film, cinta dan pernak-pernik kehidupan sehari-hari, silakan jangan sungkan-sungkan buka web gue. Siapa tahu mendapatkan "sesuatu" yang berharga.
Selamat datang di www.emkamoammar.com !!!!